Akhir Sebuah Penantian (bagian 3)

Aku sedang memberikan susu pada Rimba, saat Koko berlari-lari masuk, seperti dikejar serombongan pemberontak bersenjata. Ni, kamu lihat Mahesa? tanyanya, dengan napas memburu.

”Tadi, sih, dari sini, memeriksa Rimba,” sahutku, cuek.

Susu di dot telah habis. Rimba, harimau sumatra jantan yang kini telah pulih berkat kasih sayang Mas Rangga dan teman-temannya, kumasukkan kembali ke kerangkengnya.

”Ada apa, sih?”

”Ada penangkapan lagi di pelabuhan.”

”Penangkapan apa? Bahasamu itu, kok, kriminal banget!”

”Maaf... kamu belum tahu, ya, istilah-istilah yang sering kami pakai!” kata Koko, sambil tertawa. ”Itu artinya, ada aksi penyelundup­an binatang yang dilindungi, tapi berhasil digagalkan petugas! Pe–lakunya tertangkap dan sekarang menyisakan dua landak hutan di sana. Kamu mau ikut dan melihat seperti apa situasinya?”

”Boleh?”



”Boleh-boleh saja. Ayo.”

Koko menyeretku ke mobil. Dia menyetir seperti kesetanan. Di pelabuhan (bukan pelabuhan seperti Merak atau Tanjungmas, sebetulnya lebih tepat bila kusebut tempat penyeberangan), hewan yang berhasil disita telah dibawa ke kantor polisi setempat. Maka, kami pun melaju ke kantor polisi. Wah, seandainya aku masih jadi wartawan, tentu aku bisa mewartakan berita penangkapan ini! Adrenalinku kembali terpacu, seperti saat mengikuti penggrebek­an lokalisasi yang dilakukan petugas.

Dua petugas polisi tersenyum ramah dan menepuk punggung Koko, saat kami tiba di kantor polisi. ”Di mana, Mas, sitaannya?” tanya Koko.

”Masuk saja, Mas. Pak Komandan tadi yang bawa!”

”Ada?”

”Ada, sedang menelepon di dalam. Masuk saja!”

Koko menyeretku masuk ke ruangan yang di pintunya terdapat papan nama bertuliskan ’Komandan’. Nama yang tercantum di situ membuatku terpaksa mengernyitkan kening. AKP M. Ardiansyah. Benarkah? Ah, tapi kan banyak orang yang namanya mirip! Aku berusaha menghibur diriku sendiri dan melangkah masuk. Saat itulah rasanya aku melihat makhluk itu!

Aku terpaku. Kalau nama mirip, bisa kumaklumi. Tapi, mungkinkah ada dua manusia di muka bumi ini yang serupa benar, padahal bukan kembarannya? Rasanya, tidak! Rasanya, yang kulihat di sana itu adalah hantu masa laluku, yang bangkit kembali dari kuburnya. Kapten Ardiansyah! Ya, bagaimana aku bisa lupa nama dan sosok itu? Rasanya, aku ingin kembali ke Solo. Bagaimana mungkin, di tempat yang kukira aman dari jeratan masa laluku ini, aku justru bertemu dengan pria yang sosoknya hingga kini belum bisa kuhapus sepenuhnya dari ingatanku!

”Hei, masuk, Ko!” katanya, tanpa mengangkat muka dari komputer di depannya. Dia belum melihat siapa makhluk di samping Koko!

Begitu Koko duduk, dia menoleh. Detik itu juga kurasakan seluruh waktu dan momen yang ada membeku. Hanya aku, dia, dan kilasan-kilasan masa lalu yang pernah terajut di antara kami berdua.

”Halo, apa kabar? Ternyata dunia tak selebar daun kelor, ya?” sapaku, berusaha riang.

”Baik. Kamu?” terbata dia menjawab sapaanku.

”Seperti yang kau lihat. Baik!” aku mengangguk.

Koko menatapku heran. ”Kalian sudah saling kenal?”

”Begitulah. Ketika masih di Semarang dulu,” kataku, sambil menjaga agar suaraku tak terdengar bergetar. Padahal, aku ingin sekali menangis! Tuhan... tolonglah aku!

Koko manggut-manggut. Selanjutnya, mereka terlibat dalam obrolan tentang binatang yang dilindungi itu dan proses pengembalian kembali ke habitat aslinya. Setelah itu, Koko pamit. Di mobil, aku lebih banyak diam. Koko pun mulai menggodaku.

”Wah, setelah ketemu Pak Ardiansyah, kok, jadi pendiam, sih?”

Aku tersenyum masam.

”Dia masih bujangan, Ni. Baru enam bulan bertugas di sini,” Koko menjelaskan, tanpa kuminta.

”Oh, ya?” dalam hati aku bertanya-tanya. Bujangan? Lalu, di mana wanita itu? Wanita yang telah menghancurkan impianku untuk dapat bersanding dengan pujaan hatiku? Wanita yang menurut Ardiansyah jauh lebih layak untuknya.

”Iya. Hei, sepertinya pernah terjadi sesuatu yang istimewa antara dirimu dan dia,” goda Koko lagi, menggugah lamunanku.

”Kami berteman. Sudah lama sekali,” ujarku, setengah merenung.

Ya, sudah lama sekali. Tujuh tahun yang lalu saat aku bertugas di Semarang dan dia masih anak kemarin sore yang tengah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Kepolisian. Anak kemarin sore yang membuatku jatuh hati dan membuaiku dengan cinta yang begitu memabukkan. Namun, kisahku tak berakhir bahagia seperti kisah Cinderella. Sakit memang. Dan, itu semua salahku, karena aku terlalu percaya padanya. Aku terlalu percaya bahwa mimpi yang kami bangun akan terlaksana suatu saat nanti. Tak tahunya, mimpi yang kubangun itu laksana istana di atas pasir yang langsung runtuh begitu tersapu ombak!

Kini, nasib mempertemukanku lagi dengannya. Waktu tujuh tahun ternyata tak mengubah penampilannya. Dia masih Ardi yang kukenal tujuh tahun lalu. Masih memesona, masih tinggi tegap, dan masih memiliki sepasang mata yang tenang menghanyutkan. Mata yang dulu sangat kupuja. Sampai sekarang pun masih tetap kupuja. Sampai kapan pun, aku tak akan bisa melupakannya dan menghapus sosoknya dari ingatanku.

Mungkin, mungkin akulah yang bodoh, karena tidak betul-betul bisa melupakannya! Mungkin, karena aku tak bisa sepenuhnya melupakan Ardi itulah, Pras berpaling dariku. Mungkin, Pras merasa tak sepenuh hati kucintai dan dia mencari cinta yang utuh dari wanita lain. Mungkin. Entahlah. Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Esok harinya, saat aku memberi makan Rimba, Mas Rangga berteriak memanggilku. Aku berlari-lari menjumpainya. Dia tak sendiri. Di sampingnya ada Ardi! Tampil tanpa seragam dinas­nya, membuatnya terlihat lebih bersih, muda, dan mentereng. Sepertinya, dia tak cocok berada di tengah belantara seperti ini! Dia tersenyum dan menyapaku.

Mas Rangga diam-diam meninggalkan kami berdua. Aku tak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, aku seperti orang yang tersihir. Mungkinkah, pertemuanku ini merupakan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kupanjatkan tiap malam selama ini? Mungkinkah justru di pedalaman Sumatra ini aku menemukan sebentuk cinta sejati? Bagaimana bila cinta itu dibawa oleh seorang Ardiansyah? Bisakah aku memercayakan kembali hatiku padanya?

”Sibuk?” tanyanya lagi, memenggal habis lamunanku.

”Ya. Aku sedang memberi makan Rimba. Mau lihat?” akhirnya aku menemukan topik obrolan yang menyenangkan.
”Boleh.”

Sepertinya dia sudah tak asing lagi dengan tempat ini. Mungkin, dia sering kemari untuk mengecek binatang-binatang sitaan. Dia mengekorku seperti bebek. Aku baru ingat, hari ini hari Minggu, pantas saja dia tidak mengenakan seragam. Hmm... tinggal di pedalaman ternyata bisa membuat seseorang lupa pada kalender!

Di ruang pemulihan sudah ada Mahesa. Dia sedang membungkuk, memeriksa landak hutan, saat aku dan Ardi masuk. Dia mengangkat muka dan tersenyum. ”Pagi, Ndan! Tumben Minggu-Minggu sidak ke sini!” sapanya ramah, membuatku terheran-heran. Kenapa kemarin dia tak seramah itu padaku, ya?

”Iya, nih, sedang nggak ada kerjaan di rumah! Gimana landaknya?”

”Untungnya tidak apa-apa, Ndan. Cuma stres, karena terlalu lama berada di dalam kardus. Selebihnya, baik, kok,” Mahesa menerangkan, sambil sibuk melakukan ini-itu pada landak-landak itu.

Aku meneruskan kembali pekerjaanku yang tertunda. Rimba sekarang sudah lumayan jinak dan menurut padaku. Yah, namanya juga masih anak-anak! Paling mudah memang menaklukkan hati anak-anak, dan bukannya pria dewasa yang sangat memesona seperti makhluk di sampingku ini!

”Kamu di sini sedang undercover atau bagaimana?” tanya Ardi.

Tanpa kusadari, tinggal kami berdua di ruangan itu. ”Enggak. Aku memang bekerja di sini.”

”Kerja? Lalu, pekerjaanmu di Solo bagaimana?” tanyanya.

”Aku tinggal.”

”Pekerjaan seenak itu kaulepas begitu saja demi pekerjaan seperti ini?” tanyanya, setengah tak percaya.

”Kamu sendiri, ngapain di tempat seperti ini?” tanyaku.

”Nia, Nia... seperti tidak tahu saja. Aku ini abdi negara. Jadi, di mana pun aku ditempatkan, aku harus patuh!” ujarnya.

Hening. Aku kehabisan bahan bicara.

”Maafkan kekhilafanku di masa lalu, Ni. Aku menye­sal. Tapi, aku benar-benar khilaf waktu itu!” ujarnya tiba-tiba, dengan suara lirih.

Aku tertegun. Hatiku tergerak untuk menanyakan nasib wanita itu. Namun, mulutku tak sampai hati menanyakannya. ”Aku sudah memaafkanmu dari dulu. Sudahlah, lupakan saja!” Hanya itu yang meluncur dari mulutku.

Dia diam. Kami saling bersitatap dalam keheningan. Dia masih seindah dulu. Makhluk yang kerap menghiasi mimpiku. Yang hanya bisa kurindukan bayangannya, tanpa bisa kudekap sosoknya. Sosok yang begitu kubenci, namun juga sangat kupuja. Oh, Tuhan! Kenapa hidupku bisa begini rumit? Mengapa aku harus mengenal seorang Ardiansyah? Apa maksud-Mu, Tuhan?

”Ehm, kau mau minum apa?” tanyaku, mengusir suasana canggung yang tiba-tiba menyergap kami berdua.

”Apa saja. Tapi, sebenarnya aku tidak haus, aku lapar. Dari tadi pagi belum sarapan. Kau mau menemaniku mencari sarapan?” tanya Ardiansyah.

”Kamu yakin di sini ada warung enak?”

”Hei, aku sudah enam bulan di sini. Jadi, aku tahu tempat-tempat jajan yang enak dan mengenyangkan. Mau ikut?”
Tawarannya itu kembali mengingatkanku pada kenangan tujuh tahun lalu. Kami berdua termasuk senang jajan. Tak meng­herankan, tiada hari terlewat, tanpa berburu makanan enak dan murah di Simpang Lima, Jalan Pemuda.... Astaga! Kenapa aku jadi terbawa ke masa laluku?

Bersambung