Tampilkan postingan dengan label alunan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alunan puisi. Tampilkan semua postingan

Pelangi

tadi kulihat pelangi di langit
hanya berpendar tak ceria lagi
tersenyum pada mentari berharap
khan ada waktu lebih lama lagi
untuk tunjukkan keindahannya
pada semua orang didunia ini

pelangi jangan kau sirna pergi
kami masih butuh indah warnamu
tuk beri sebuah khayalan indah
tentang hidup damai di dunia
seperti kilaumu yang sejuk itu
ajarkan kami tuk menjadi indah

Selamat Datang Kembali Sayang

Angin syahdu mendendang senandung merdu
bait demi bait terlantun,
mekarkan kembang hidupkan taman.

Ini kisah gembira, tentang kembalinya sang Bayu nan
teduh;
Sang kawan sejati,
Sang teman sehati,
kala menatap Cinta.

Dinda, mengapa pergi demikian lama?
Tak tahukah engkau rindu tlah menggunung?

Kini engkau kembali, wahai putri jelita
Kini kerinduan tlah terobati,
Berganti gejolak yang tak kalah merisaukan;
Penantian akan Senyum yang kau tebar,
Senyum termanis dari jiwa yang Indah.

Dan,
Tanganpun terulur sambut semerbak kembang setaman;
“Mari dinda, warnai samudra dengan goresan pena.”

***”Karena itu, ajaklah perasaan menjunjung tinggi akal budi, meraih puncak-puncak getaran kebenaran sejati, keduanya mewujudkan sebuah simfony.”***[Kahlil Gibran]



~ Khalil Gibran ~

Selamat Datang Kembali Sayang

Angin syahdu mendendang senandung merdu
bait demi bait terlantun,
mekarkan kembang hidupkan taman.

Ini kisah gembira, tentang kembalinya sang Bayu nan
teduh;
Sang kawan sejati,
Sang teman sehati,
kala menatap Cinta.

Dinda, mengapa pergi demikian lama?
Tak tahukah engkau rindu tlah menggunung?

Kini engkau kembali, wahai putri jelita
Kini kerinduan tlah terobati,
Berganti gejolak yang tak kalah merisaukan;
Penantian akan Senyum yang kau tebar,
Senyum termanis dari jiwa yang Indah.

Dan,
Tanganpun terulur sambut semerbak kembang setaman;
“Mari dinda, warnai samudra dengan goresan pena.”

***”Karena itu, ajaklah perasaan menjunjung tinggi akal budi, meraih puncak-puncak getaran kebenaran sejati, keduanya mewujudkan sebuah simfony.”***[Kahlil Gibran]



~ Khalil Gibran ~

Pulang

Aku akan pulang membawa kegelisahan
dalam rindu yang mencemaskan, adakah
kau simpan luka lama dengan merampungkan
kenangan kelam, dari masa telah terlewati
pada perantauan asing di segenap hati
Rumah telah tertutup pada mimpi buruk
rontoklah hari demi hari dari dongeng ngeri
cerita tentang kemurungan negeri terbaca
selalu meramu mitos-mitos pemikiran semu
mengurung niat yang terlintas hanya kejemuan

Aku akan tetap pulang, segera menghabiskan
semua huruf dalam kamus kehidupanmu, hingga
bakal mengerti, bahwa ternyata selama ini
aku tak jauh dari bacaanmu, pada setiap ucapmu
selalu mengandung kerinduan untuk kepulanganku

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
untuk Abdul Aziz, kakakku

Tamsil Dunia Air

Apakah kita sampai dalam dasar kolam, gelisah
berkaca permukaan tak karuan, letih menyelami
tanpa harapan hingga makin buyarkan pandang
didepak sinar terjerembab kegelapan mendasar



Terhadap riak-riak gelombang, kita mengalir
menepi sampai ke tepi dari keramaian dunia air
ternyata banyak pilihan yang membingungkan
tak sempat untuk dapat menata diri kembali
betapa kita butuh bernafas lebih bebas lagi




Berkaca lebih bersih di atas permukaan kolam
pasrah karunia atau bencana yang akan tumpah
kita tetap menajamkan pandangan kehidupan

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Pulang

Aku akan pulang membawa kegelisahan
dalam rindu yang mencemaskan, adakah
kau simpan luka lama dengan merampungkan
kenangan kelam, dari masa telah terlewati
pada perantauan asing di segenap hati
Rumah telah tertutup pada mimpi buruk
rontoklah hari demi hari dari dongeng ngeri
cerita tentang kemurungan negeri terbaca
selalu meramu mitos-mitos pemikiran semu
mengurung niat yang terlintas hanya kejemuan

Aku akan tetap pulang, segera menghabiskan
semua huruf dalam kamus kehidupanmu, hingga
bakal mengerti, bahwa ternyata selama ini
aku tak jauh dari bacaanmu, pada setiap ucapmu
selalu mengandung kerinduan untuk kepulanganku

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
untuk Abdul Aziz, kakakku

Tamsil Dunia Air

Apakah kita sampai dalam dasar kolam, gelisah
berkaca permukaan tak karuan, letih menyelami
tanpa harapan hingga makin buyarkan pandang
didepak sinar terjerembab kegelapan mendasar



Terhadap riak-riak gelombang, kita mengalir
menepi sampai ke tepi dari keramaian dunia air
ternyata banyak pilihan yang membingungkan
tak sempat untuk dapat menata diri kembali
betapa kita butuh bernafas lebih bebas lagi




Berkaca lebih bersih di atas permukaan kolam
pasrah karunia atau bencana yang akan tumpah
kita tetap menajamkan pandangan kehidupan

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Sajak Tiap Hari

Tiap hari, aku harus bersentuhan dengan
nuraniku sendiri, laku batin tiada henti
mengasah rasa yang terkikis kecemasan
Tiap hari, aku harus merangkaki
dinding kesunyian hati, bagai cicak yang papa
melata derita yang terbata-bata

Tiap hari, aku harus berjalan di atas bara
semangat jiwa yang terus menyala-nyala
menemani batin yang terhimpit kenyataan pahit
Tiap hari, ya, tiap hari
aku memandang dalam perasaan transparan
mencari dirimu, wahai jiwa yang damai

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Sajak Tiap Hari

Tiap hari, aku harus bersentuhan dengan
nuraniku sendiri, laku batin tiada henti
mengasah rasa yang terkikis kecemasan
Tiap hari, aku harus merangkaki
dinding kesunyian hati, bagai cicak yang papa
melata derita yang terbata-bata

Tiap hari, aku harus berjalan di atas bara
semangat jiwa yang terus menyala-nyala
menemani batin yang terhimpit kenyataan pahit
Tiap hari, ya, tiap hari
aku memandang dalam perasaan transparan
mencari dirimu, wahai jiwa yang damai

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Aku Kini Matahari

Aku kini matahari yang menggaris
bumi, tertatih-tatih menaiki tangga langit
seiring hari-hari menempuh kerinduan abadi

Bangkit dini hari mengejar sang fajar
terkupasnya senyum pagi sisa impian semalam
yang cepat berganti tertindih kesibukan
bergerak bersama wangi keringat kering
tangan-tangan yang memegang peranan
melaju penuh debu yang akrab pergulatan
perjuangan demi kehidupan harus diperjuangkan


Aku kini matahari yang menggaris
bumi, tertatih-tatih menaiki tangga langit
sampai hari-hari menuju ke haribaan ilahi

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Aku Kini Matahari

Aku kini matahari yang menggaris
bumi, tertatih-tatih menaiki tangga langit
seiring hari-hari menempuh kerinduan abadi

Bangkit dini hari mengejar sang fajar
terkupasnya senyum pagi sisa impian semalam
yang cepat berganti tertindih kesibukan
bergerak bersama wangi keringat kering
tangan-tangan yang memegang peranan
melaju penuh debu yang akrab pergulatan
perjuangan demi kehidupan harus diperjuangkan


Aku kini matahari yang menggaris
bumi, tertatih-tatih menaiki tangga langit
sampai hari-hari menuju ke haribaan ilahi

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Kasidah Kota Tua

Bersamamu menyusuri sebuah kota
Tua, betapa kita merasa semakin tua saja
Sepanjang jalan adalah usia yang berlepasan
Dari detik demi detik mengalir tiada henti
Satu demi satu mengelupas seperti rasa cemas
Menguakkan kesadaran yang telah lama karam
Ada yang terasa hilang saat kita tergelak
Tawa, kebahagiaan yang sulit diterjemahkan
Menjelajah malam penuh gemerlapan, tapi miris hati
Tercabik lirikan genit perempuan malam pinggir jalan
Senyumnya kaku betapa hampa membekukan suasana
Tak ada percakapan tentang baik-buruk, cantik-jelek,
Atau alim-pelacur, tapi ia akan tetap berhak menyandang
Sebutan ibu, keagungan sebuah martabat paling hakekat
Meski telah menelantarkan kesemua anak-anaknya
Terlunta-lunta di kolong kota tanpa ayah dan kasih sayang
Roda kehidupan yang semakin bergulir menuju jaman akhir
Dan kita pasrah, tak bisa menolak ataupun mungkir

Kota, apakah masih mampu menanggung beban zaman
Tak bisa mengulang kembali menjadi lautan api
Sekarang sudah terlalu uzur untuk kembali bertempur
Gedung-gedung telah menutup pintu-jendela
Juga orang-orang telah lelap dalam mimpi gemerlapnya
Tapi kita masih setia menjaga tanya
Hanya kata-kata yang bisa dijadikan teman
Lihatlah, ada bocah selalu gelisah tak mampu merubah
Nasibnya yang telah terjepit di antara kenyataan pahit
Tapi semangatnya tetap berapi-api menuangkan energi kreatif
Rangkaian kata-kata yang ditulisnya dijadikan senjata

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
Catatan bersama Nur Ikhsan Suryakusumah
Bandung, 24 Maret 2008

Kasidah Kota Tua

Bersamamu menyusuri sebuah kota
Tua, betapa kita merasa semakin tua saja
Sepanjang jalan adalah usia yang berlepasan
Dari detik demi detik mengalir tiada henti
Satu demi satu mengelupas seperti rasa cemas
Menguakkan kesadaran yang telah lama karam
Ada yang terasa hilang saat kita tergelak
Tawa, kebahagiaan yang sulit diterjemahkan
Menjelajah malam penuh gemerlapan, tapi miris hati
Tercabik lirikan genit perempuan malam pinggir jalan
Senyumnya kaku betapa hampa membekukan suasana
Tak ada percakapan tentang baik-buruk, cantik-jelek,
Atau alim-pelacur, tapi ia akan tetap berhak menyandang
Sebutan ibu, keagungan sebuah martabat paling hakekat
Meski telah menelantarkan kesemua anak-anaknya
Terlunta-lunta di kolong kota tanpa ayah dan kasih sayang
Roda kehidupan yang semakin bergulir menuju jaman akhir
Dan kita pasrah, tak bisa menolak ataupun mungkir

Kota, apakah masih mampu menanggung beban zaman
Tak bisa mengulang kembali menjadi lautan api
Sekarang sudah terlalu uzur untuk kembali bertempur
Gedung-gedung telah menutup pintu-jendela
Juga orang-orang telah lelap dalam mimpi gemerlapnya
Tapi kita masih setia menjaga tanya
Hanya kata-kata yang bisa dijadikan teman
Lihatlah, ada bocah selalu gelisah tak mampu merubah
Nasibnya yang telah terjepit di antara kenyataan pahit
Tapi semangatnya tetap berapi-api menuangkan energi kreatif
Rangkaian kata-kata yang ditulisnya dijadikan senjata

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
Catatan bersama Nur Ikhsan Suryakusumah
Bandung, 24 Maret 2008

Sajak Akhir Perjalanan

Inikah akhir perjalananmu yang paling pilu
menempuh kesibukan seharian penuh, namun
sepatumu terantuk di batu-batu, betapa dirimu
ingin terus melangkah maju

Inikah akhir perjalananmu yang paling rindu
melewati impian dan harapan anak-istri
yang bersemi, senyummu meliuk-liuk lampaui
segala bahagia yang pecah duka melegenda


Inikah akhir perjalananmu yang paling mulus
menemukan kedamaian abadi pada dunia lain
ghaiblah anganmu menulis kesaksian, betapa
dunia yang kautinggalkan maya belaka

In memoriam Udin
Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Sajak Akhir Perjalanan

Inikah akhir perjalananmu yang paling pilu
menempuh kesibukan seharian penuh, namun
sepatumu terantuk di batu-batu, betapa dirimu
ingin terus melangkah maju

Inikah akhir perjalananmu yang paling rindu
melewati impian dan harapan anak-istri
yang bersemi, senyummu meliuk-liuk lampaui
segala bahagia yang pecah duka melegenda


Inikah akhir perjalananmu yang paling mulus
menemukan kedamaian abadi pada dunia lain
ghaiblah anganmu menulis kesaksian, betapa
dunia yang kautinggalkan maya belaka

In memoriam Udin
Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Adakah Cintamu Untukku

beribu hari ku lalui bersama mu….
namun kau tak pernah peduli kan hadirku….
berjuta masa ku menemani raga mu…
namun bathinmu tak pernah ingin kan ku…

hingga ambang batas rasa cintaku….
ku langkahkan kaki menjauhi mu….
namun tetap tak kau relakan….
apa yang sebenarnya ada dalam kalbumu???
cinta atau kah sebatas keinginan dan ke egoisan???
ku terdiam sejenak tuk memutuskan…
namun cinta ku pada mu tetap berkobar…
dan kuputuskan untuk tetap tinggal di dekat mu…

hari pun silih berganti…
namun kau tetap seperti yang dulu…
acuh dan tak peduli pada cintaku…
dan hingga batas waktu ini…
slalu dan kan slalu kupertanyakan…

Adakah Cintamu Untukku

beribu hari ku lalui bersama mu….
namun kau tak pernah peduli kan hadirku….
berjuta masa ku menemani raga mu…
namun bathinmu tak pernah ingin kan ku…

hingga ambang batas rasa cintaku….
ku langkahkan kaki menjauhi mu….
namun tetap tak kau relakan….
apa yang sebenarnya ada dalam kalbumu???
cinta atau kah sebatas keinginan dan ke egoisan???
ku terdiam sejenak tuk memutuskan…
namun cinta ku pada mu tetap berkobar…
dan kuputuskan untuk tetap tinggal di dekat mu…

hari pun silih berganti…
namun kau tetap seperti yang dulu…
acuh dan tak peduli pada cintaku…
dan hingga batas waktu ini…
slalu dan kan slalu kupertanyakan…