mengapa terjadi perpisahan ini?
saat sang cinta melebarkan sayapnya
apalagi aku tlah terlanjur cinta
aku malu pada teman dan semua orang
kekasihku sayang, jangan pergi
dari hidup dan jiwaku yang sepi
kalau memang tiada jodoh kita
aku tetap tak memilih tuk sendiri
mungkin apa yang kurasakan sekarang
tak pernah terlintas di pikiran mu
serasa ku tak bernyawa di sisimu
semoga kau kan bahagia selamanya
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Pelangi
tadi kulihat pelangi di langit
hanya berpendar tak ceria lagi
tersenyum pada mentari berharap
khan ada waktu lebih lama lagi
untuk tunjukkan keindahannya
pada semua orang didunia ini
pelangi jangan kau sirna pergi
kami masih butuh indah warnamu
tuk beri sebuah khayalan indah
tentang hidup damai di dunia
seperti kilaumu yang sejuk itu
ajarkan kami tuk menjadi indah
hanya berpendar tak ceria lagi
tersenyum pada mentari berharap
khan ada waktu lebih lama lagi
untuk tunjukkan keindahannya
pada semua orang didunia ini
pelangi jangan kau sirna pergi
kami masih butuh indah warnamu
tuk beri sebuah khayalan indah
tentang hidup damai di dunia
seperti kilaumu yang sejuk itu
ajarkan kami tuk menjadi indah
Label:
alunan puisi,
cinta,
puisi asa,
puisi harapan,
sajak asa,
sajak harapan,
sayang,
syair asa,
syair harapan
Mimpi Yang Terkurung
aku hanya ingin menjalani hidupku,
waktuku yang berharga,
semua yang kusukai tanpa penyesalan.
Tanpa banyak pikiran lagi di otak. Hanya melakukannya. Lebih banyak tersenyum.
Tak lagi tertunduk lesu. Bila kubertannya bisakah aku? Bagian lain diriku menjawab:
"itu semua terserah kamu"
Lalu otakku kembali memproses,
ah jawaban seperti ini sulit.
aku harus mengalahkan diriku sendiri?
waktuku yang berharga,
semua yang kusukai tanpa penyesalan.
Tanpa banyak pikiran lagi di otak. Hanya melakukannya. Lebih banyak tersenyum.
Tak lagi tertunduk lesu. Bila kubertannya bisakah aku? Bagian lain diriku menjawab:
"itu semua terserah kamu"
Lalu otakku kembali memproses,
ah jawaban seperti ini sulit.
aku harus mengalahkan diriku sendiri?
Label:
cinta,
poem romance,
puisi,
Puisi Cinta,
puisi malam,
puisi patah hati,
puisi sayang,
romantis,
sayang,
syair jiwa
Selamat Ulang Tahun
Dalam suka mulut tertawa
Dalam duka mata berkaca
Dalam kaku pikir terpaku
Dalam waktu langkah satu-satu
Demi masa depan
demi kesejahteraan
demi kebahagiaan
demi Tuhan, teruslah berjuang
Dalam duka mata berkaca
Dalam kaku pikir terpaku
Dalam waktu langkah satu-satu
Ada batu semangat tak mati kutu
Ada lubang jati diri tak hilang
Terseok-seok menyusur jalan berkelok-kelok
Jatuh bangun namun tetap tekun
Demi masa depan
demi kesejahteraan
demi kebahagiaan
demi Tuhan, teruslah berjuang
November ‘98
tinba
Bahagia Bukan Milik Hari Ini
Aceh merana
Indonesia pun berduka
dunia pun nestapa
Solidaritas datang
berduyun
dari seluruh dunia
tiba-tiba bahagia itu ada
menyelinap dalam puing-puing
yg berserak
di antara gelimpangan mayat-mayat
korban tsunami
haru biru kalbu ini
Indonesia pun berduka
dunia pun nestapa
Solidaritas datang
berduyun
dari seluruh dunia
tiba-tiba bahagia itu ada
menyelinap dalam puing-puing
yg berserak
di antara gelimpangan mayat-mayat
korban tsunami
haru biru kalbu ini
Bahagia Bukan Milik Hari Ini
Aceh merana
Indonesia pun berduka
dunia pun nestapa
Solidaritas datang
berduyun
dari seluruh dunia
tiba-tiba bahagia itu ada
menyelinap dalam puing-puing
yg berserak
di antara gelimpangan mayat-mayat
korban tsunami
haru biru kalbu ini
Indonesia pun berduka
dunia pun nestapa
Solidaritas datang
berduyun
dari seluruh dunia
tiba-tiba bahagia itu ada
menyelinap dalam puing-puing
yg berserak
di antara gelimpangan mayat-mayat
korban tsunami
haru biru kalbu ini
Atjeh di Penghujung Kata (Tsunami 2004)
Puisi: Iman Arifandi
Lahir aku di bumimu Ibu
Lahir aku pada puisi membisu
Bisu pada tanah yang tak ramah
Bisu pada laut yang kalut
Apakah aku harus berpegang
Pada ganggang berhulu pedang
Coba hadang maut
yang membentang
Sedang aku tahu
Aku hanya punya puisi
Dikala aku membendung amarah
Lahir aku di bumimu Ibu
Lahir aku pada puisi membisu
Bisu pada tanah yang tak ramah
Bisu pada laut yang kalut
Apakah aku harus berpegang
Pada ganggang berhulu pedang
Coba hadang maut
yang membentang
Sedang aku tahu
Aku hanya punya puisi
Dikala aku membendung amarah
Atjeh di Penghujung Kata (Tsunami 2004)
Puisi: Iman Arifandi
Lahir aku di bumimu Ibu
Lahir aku pada puisi membisu
Bisu pada tanah yang tak ramah
Bisu pada laut yang kalut
Apakah aku harus berpegang
Pada ganggang berhulu pedang
Coba hadang maut
yang membentang
Sedang aku tahu
Aku hanya punya puisi
Dikala aku membendung amarah
Lahir aku di bumimu Ibu
Lahir aku pada puisi membisu
Bisu pada tanah yang tak ramah
Bisu pada laut yang kalut
Apakah aku harus berpegang
Pada ganggang berhulu pedang
Coba hadang maut
yang membentang
Sedang aku tahu
Aku hanya punya puisi
Dikala aku membendung amarah
Denang Seratus Ribu Kunang-kunang (sebuah catatan belum selesai)
Puisi: Hoesnizar Hood
Denang oi,
Jangan sebut namanya
Aku tak mau dengar namanya
Karena sekalipun tidak dimimpipun enggan
Aku tak tau engkaupun tidak
Jauh dari seribu bayangan
Tapi tiba-tiba dia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang
Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Denang oi,
Jangan sebut namanya
Aku tak mau dengar namanya
Karena sekalipun tidak dimimpipun enggan
Aku tak tau engkaupun tidak
Jauh dari seribu bayangan
Tapi tiba-tiba dia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang
Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Denang Seratus Ribu Kunang-kunang (sebuah catatan belum selesai)
Puisi: Hoesnizar Hood
Denang oi,
Jangan sebut namanya
Aku tak mau dengar namanya
Karena sekalipun tidak dimimpipun enggan
Aku tak tau engkaupun tidak
Jauh dari seribu bayangan
Tapi tiba-tiba dia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang
Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Denang oi,
Jangan sebut namanya
Aku tak mau dengar namanya
Karena sekalipun tidak dimimpipun enggan
Aku tak tau engkaupun tidak
Jauh dari seribu bayangan
Tapi tiba-tiba dia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang
Menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Sebuah Tanya untuk Aceh
Puisi: Tsi Taura
Lewat layar-layar kaca kita saksikan
gelombang tsunami
Mengejar anak-anak manusia
Menerjang, menghempas ganas siapa saja
tak pandang usia atau jabatan
Mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan
Berselimut koran-koran bekas
Plastik-plastik cabik dan ada pula terbujur kaku
Mengenaskan tanpa sehelai daun pun
Lewat layar-layar kaca kita saksikan
gelombang tsunami
Mengejar anak-anak manusia
Menerjang, menghempas ganas siapa saja
tak pandang usia atau jabatan
Mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan
Berselimut koran-koran bekas
Plastik-plastik cabik dan ada pula terbujur kaku
Mengenaskan tanpa sehelai daun pun
Sebuah Tanya untuk Aceh
Puisi: Tsi Taura
Lewat layar-layar kaca kita saksikan
gelombang tsunami
Mengejar anak-anak manusia
Menerjang, menghempas ganas siapa saja
tak pandang usia atau jabatan
Mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan
Berselimut koran-koran bekas
Plastik-plastik cabik dan ada pula terbujur kaku
Mengenaskan tanpa sehelai daun pun
Lewat layar-layar kaca kita saksikan
gelombang tsunami
Mengejar anak-anak manusia
Menerjang, menghempas ganas siapa saja
tak pandang usia atau jabatan
Mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan
Berselimut koran-koran bekas
Plastik-plastik cabik dan ada pula terbujur kaku
Mengenaskan tanpa sehelai daun pun
Tsunami
-Yudhistira ANM Massardi-
Ya Allah, ampuni kami ...!
Azab-Mu begitu dahsyat dan nyata
Tetapi kami begitu angkuh dan sombong
Kami ingkari dan dustakan Kamu
Kami zalimi kaum dan agama kami
Kami berhalakan harta dan kekuasaan kami
Kami sekutukan Kamu dengan semua nafsu
Sudah keterlaluan kemungkaran kami
Kami hinakan ruh dan seluruh ciptaan-Mu
Ya Allah, ampuni kami ...!
Azab-Mu begitu dahsyat dan nyata
Tetapi kami begitu angkuh dan sombong
Kami ingkari dan dustakan Kamu
Kami zalimi kaum dan agama kami
Kami berhalakan harta dan kekuasaan kami
Kami sekutukan Kamu dengan semua nafsu
Sudah keterlaluan kemungkaran kami
Kami hinakan ruh dan seluruh ciptaan-Mu
Tsunami
-Yudhistira ANM Massardi-
Ya Allah, ampuni kami ...!
Azab-Mu begitu dahsyat dan nyata
Tetapi kami begitu angkuh dan sombong
Kami ingkari dan dustakan Kamu
Kami zalimi kaum dan agama kami
Kami berhalakan harta dan kekuasaan kami
Kami sekutukan Kamu dengan semua nafsu
Sudah keterlaluan kemungkaran kami
Kami hinakan ruh dan seluruh ciptaan-Mu
Ya Allah, ampuni kami ...!
Azab-Mu begitu dahsyat dan nyata
Tetapi kami begitu angkuh dan sombong
Kami ingkari dan dustakan Kamu
Kami zalimi kaum dan agama kami
Kami berhalakan harta dan kekuasaan kami
Kami sekutukan Kamu dengan semua nafsu
Sudah keterlaluan kemungkaran kami
Kami hinakan ruh dan seluruh ciptaan-Mu
Doa Seorang Serdadu usai Tsunami
Dino F. Umahuk
Tuhan
Mengapa air bah itu kau timpakan kepada kami
Padahal di sini tak ada Nuh
Mengapa murka kau timpakan kepada kami
Padahal kami sedang terlena dalam dosa
Padahal kami sedang asyik menindas saudara-saudara kami
Dan tak satupun perahu yang Kau suruh kami buat
Selain beratus-ratus tank, dan truk
Juga berjenis-jenis senapan yang kami siagakan siang-malam
Sambil mengutil separuh dananya buat ongkos belanja dan jalan-jalan
Anak isteri ke luar negeri
Tuhan
Mengapa air bah itu kau timpakan kepada kami
Padahal di sini tak ada Nuh
Mengapa murka kau timpakan kepada kami
Padahal kami sedang terlena dalam dosa
Padahal kami sedang asyik menindas saudara-saudara kami
Dan tak satupun perahu yang Kau suruh kami buat
Selain beratus-ratus tank, dan truk
Juga berjenis-jenis senapan yang kami siagakan siang-malam
Sambil mengutil separuh dananya buat ongkos belanja dan jalan-jalan
Anak isteri ke luar negeri
Doa Seorang Serdadu usai Tsunami
Dino F. Umahuk
Tuhan
Mengapa air bah itu kau timpakan kepada kami
Padahal di sini tak ada Nuh
Mengapa murka kau timpakan kepada kami
Padahal kami sedang terlena dalam dosa
Padahal kami sedang asyik menindas saudara-saudara kami
Dan tak satupun perahu yang Kau suruh kami buat
Selain beratus-ratus tank, dan truk
Juga berjenis-jenis senapan yang kami siagakan siang-malam
Sambil mengutil separuh dananya buat ongkos belanja dan jalan-jalan
Anak isteri ke luar negeri
Tuhan
Mengapa air bah itu kau timpakan kepada kami
Padahal di sini tak ada Nuh
Mengapa murka kau timpakan kepada kami
Padahal kami sedang terlena dalam dosa
Padahal kami sedang asyik menindas saudara-saudara kami
Dan tak satupun perahu yang Kau suruh kami buat
Selain beratus-ratus tank, dan truk
Juga berjenis-jenis senapan yang kami siagakan siang-malam
Sambil mengutil separuh dananya buat ongkos belanja dan jalan-jalan
Anak isteri ke luar negeri
Nyeri Aceh
Fikar W W Eda
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil, nyeri perih
nyeri kami, inilah nyeri kami.
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil, nyeri perih
nyeri kami, inilah nyeri kami.
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
Nyeri Aceh
Fikar W W Eda
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil, nyeri perih
nyeri kami, inilah nyeri kami.
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil, nyeri perih
nyeri kami, inilah nyeri kami.
nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
Sajak Tsunami Aceh
Widayanti
Dalam do'a kuukir nisan-nisan
Kembalilah ke taman indah
Berhiaskan berjuta bunga
Berteman seribu bintang
Berbekal seribu ayat yang kau lakoni selama di alam fana ini
Termaafkan segala hilap
Ini lah asa dan doa kami untukmu para syahidan.
Dalam do'a kuukir nisan-nisan
Kembalilah ke taman indah
Berhiaskan berjuta bunga
Berteman seribu bintang
Berbekal seribu ayat yang kau lakoni selama di alam fana ini
Termaafkan segala hilap
Ini lah asa dan doa kami untukmu para syahidan.
